Manusia memiliki dua prasangka di dalam dirinya:
prasangka baik dan prasangka buruk. Tetapi manusia diberi akal dan pikiran
untuk bisa menentukan apakah dia memilih prasangka yang baik atau buruk, dan
pilihan tersebut ada pada diri manusia untuk memilihnya karena sama-sama
memiliki konsekuensinya masing-masing. Namun kadang kebanyakan manusia lebih
sering untuk memilih berprasangka buruk di dalam dirinya ketika melihat
fenomena yang tidak sesuai dengan keinginannya. Apalagi kalau fenomena yang dialami
kurang mengenakkan, akhirnya dia selalu menyalahkan takdir, dan pada akhirnya
kehidupannya tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.
Hal ini juga dialami oleh penulis, kadang kalau
sesuatu tidak sesuai dengan keinginan, penulis merasa bahwa penulis sedang
sial, kurang beruntung, atau memang Tuhan maunya seperti itu. Tetapi setelah
penulis berusaha mendalami agama dengan cara berusaha untuk ‘paham’, ternyata apa yang penulis
pikirkan itu tidak benar adanya. Bahkan Tuhan sudah jelas menyatakan “Akulah
yang menentukan takdirmu, tetapi Engkaulah yang sebagai penyebabnya”. Jadi di sini
perintah agar kita berikhtiar dengan konsisten
adalah benar adanya. Dan Tuhan pun tidak menuntut hasil dalam ikhtiar kita,
tetapi kekonsistenan kitalah yang akan dinilai.
Dan di agama jugalah penulis menemukan bahwa apabila
kita mengalami sesuatu yang hasilnya kurang sesuai dengan keinginan kita,
mungkin hal tersebut memang tidak baik untuk kita, dan Tuhan lebih mengetahui
apa yang terbaik untuk kehidupan kita ke depannya. Jadi ini lebih meyakinkan
penulis bahwa kejadian apa pun yang menimpa diri kita adalah yang terbaik untuk
masa depan kita, karena kita sebagai manusia hanyalah sebagai pelaku dalam ‘film
kehidupan’ di dunia ini –dan Tuhan adalah ‘sutradaranya’. Jadi percayakanlah ‘film kehidupan’ kita ini
hanya kepada Tuhan, karena tidak ada Sutradara manapun yang ingin membuat film
yang jelek. Hanya pemain filmnyalah yang kurang mengerti keinginan Sang Sutradara.
Nah, setelah memahami ini, maka apakah kita masih ingin memiliki prasangka yang
buruk kepada kehidupan kita?
Tips-Tips dalam memiliki selalu prasangka yang baik di dalam kehidupan kita
- Sadarilah kehidupan kita di dunia ini hanya senda gurau semata, dan hal tersebut sudah dijelaskan sangat jelas di agama. Jadi pertanyaannya, mengapa kita terlalu membuat serius kehidupan ini? Karena hal baik maupun buruk yang menimpa kehidupan kita –menurut ‘kacamata’ kita yah– belum tentu Tuhan memiliki cara pandang yang sama dengan kita.
- Sadarilah, Tuhan sebagai pencipta kita, manusia, lebih mengetahui hal terbaik apa yang harus terjadi di dalam kehidupan kita. Tetapi kadang kita sebagai manusia menuntut bahwa keinginan kita harus sama dengan keinginan Tuhan. Berarti, apakah kita tidak menyadari bahwa kita ini makhluk ciptaan-Nya (bukan sebaliknya), dan sebagai pencipta pasti lebih mengetahui hasil ciptaan-Nya.
- Sadarilah bahwa kita diperintahkan untuk selalu berbaik sangka dengan segala hal yang terjadi di dalam kehidupan ini. Maka perintah tersebut juga sudah memiliki ‘hikmah’ apabila kita lebih memilih berburuk sangka, apakah hal tersebut dapat merubah nasib kita..? karena Tuhanlah yang menentukan nasib kita, tetapi kitalah sebagai penyebabnya, jadi pilihan ada di tangan kita.

Komentar
Posting Komentar