Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata “pensiun”..?
Biasanya pensiun itu diibaratkan WIB. (waktu Indonesia bagian berhenti berkarya,
hehehe..) atau kalau dikorelasikan bahwa seseorang atau individu tersebut sudah
waktunya untuk berhenti bekerja di suatu institusi atau perusahaan, dikarenakan
faktor umur yang sudah ‘uzur’. Bisa dikatakan orang atau individu tersebut
sudah tidak akan seproduktif seperti kala ia muda dulu.
Tetapi pertanyaannya: apakah pernyataan tersebut benar
adanya..? Karena kalau kita sampai salah memahami kata “pensiun” bisa-bisa kita
menganggap pensiun adalah waktunya kita untuk ‘hore’ atau bergembira ria karena
terbebas dari segala ikatan pekerjaan yang membebani diri kita. Padahal di dalam
agama tidak pernah ada penjelasan mengenai kapan waktu kita untuk pensiun. Yang
ada, kita pensiun terbebas dari pekerjaan saat kita sudah pindah alam, yaitu
dari alam dunia ke alam kubur alias mati –karena memang tugas kita di dunia ini
sudah selesai dan tinggal mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita atas ‘karya’
apa yang sudah pernah kita lakukan ketika kita masih hidup di dunia kepada Sang
Pencipta...
Namun, ketika kita masih diberikan kesempatan untuk
hidup, berarti Tuhan masih memberikan kita tanggung jawab kepada kita, yaitu: kesempatan untuk terus berkarya bagi umat manusia.
Jadi seharusnya kita itu ‘alergi’ dan sedih mendengar
kata pensiun ini –bukannya bahagia, apalagi riang gembira sambil loncat-loncat,
hehehe.. karena waktu kita untuk berkarya ternyata dibatasi oleh aturan yang
dibuat oleh manusia. Padahal sebagai manusia, kita diwajibkan untuk menjadi
manusia yang paling bermanfaat bagi kehidupan manusia yang lainnya sampai maut
menjemput, yaitu dengan karya yang kita miliki agar kehidupan sesama menjadi
lebih baik karena buah tangan kita berupa jasa maupun produk yang kita
persembahkan bagi kemaslahatan umat manusia.
Jadi, jangan pernah ada kata “pensiun” dalam kamus hidup
kita. Selagi manusia masih diberikan kesempatan untuk hidup, mari manfaatkan
untuk terus berkarya dan berprestasi agar apa yang kita lakukan ini dapat
membuat Tuhan tersenyum bahagia melihat hamba-Nya memaksimalkan potensi yang
diberikan untuk sesama, karena hanya inilah yang bisa kita persembahkan untuk
Tuhan, bukan harta benda kita yang kita kumpulkan... karena ketika wafat, hal
tersebut tidak bisa kita bawa ke alam kubur.
Tips-Tips untuk terus berkarya dan tidak mengenal kata “pensiun”
- Ingat, produktivitas kita tidak tergantung dari umur kita –tua maupun muda– tetapi dari bagaimana usaha kita untuk terus berupaya dalam berkarya demi kemaslahatan umat, dan hanya mautlah yang dapat membatasi karya maupun kontribusi kita.
- Muda maupun tua hanyalah anggapan dari diri kita pribadi saja, karena banyak manusia di luar sana yang menjadi sukses baik itu dengan jabatan maupun karyanya ketika mereka sudah dianggap ‘tua’ oleh sebagian besar orang yang menilainya –dianggap sudah waktunya untuk beristirahat, menikmati hari tua, dll.. Namun mereka tidak pernah mau kalah dengan usia yang mereka miliki, karena di dalam benak mereka hanya mautlah yang dapat memaksa diri mereka untuk pensiun.
- Usia maupun umur hanyalah bilangan angka-angka saja, selagi kita masih diberikan kesempatan untuk hidup, gunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya karena kesempatan itu hanya datang sekali... karena mau tak mau, suka tak suka, kita akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita di hadapan Tuhan Sang Pencipta –dan alangkah baiknya ketika Tuhan menilai amalan yang sudah kita lakukan selagi hidup di dunia, saking banyaknya amalan yang kita perbuat sampai malaikat pun ‘pusing’ untuk menghitungnya, jangan sampai sebaliknya. Bukankah itu yang kita inginkan..?

Komentar
Posting Komentar