Memaksa

 


Kadang kita sebagai orang tua tidak sadar pernah memaksakan ambisi kita kepada anak yang kita rasa benar. Misalnya kita memaksa anak mengikuti suatu kegiatan yang kita rasa kegiatan tersebut penting buat mereka lakukan seperti mengikuti sebuah kursus, les, lomba dll. Tetapi kita tidak pernah menanyakan apakah kegiatan tersebut mereka minati atau tidak, kita langsung menyuruh anak mengikutinya tanpa kita memberikan kesempatan pada anak. Apakah anak menyukainya atau tidak, kita tetap paksa anak untuk mengikutinya karena kita pikir demi masa depan anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang berprestasi. Tetapi pertanyaannya: prestasi menurut kacamata siapa? Apakah untuk mengejar ambisi kita sebagai orang tua agar kita bisa memamerkan prestasi anak-anak kita di depan orang banyak, atau memang mengejar ambisi anak itu sendiri?

Kadang kita tidak sadar memaksa anak untuk mengejar ambisi kita yang tidak kesampaian di masa lalu. Jadi kita meminta anak untuk mengejar ambisi kita yang tidak kesampaian itu. Namun apakah hal itu adil bagi anak? Kalau saja kita bertukar posisi dengan anak kita –kita sebagai anak– dan orang tua kita memaksa kita melakukan apa yang tidak kita sukai, bersediakah kita melakukannya? Karena kalau kita sendiri yang mengalaminya, mungkin kita merasa orang tua kita tidak adil, orang tua kita egois, orang tua kita mau menang sendiri, tidak mau mendengar pendapat kita... apakah hal-hal itu akan terlintas dalam pikiran kita kalau kejadian itu kita sendiri yang mengalaminya?

Oleh karena itu wahai para orang tua, saya menghimbau, meskipun anak kita lahir dari rahim kita, namun mereka tercipta berbeda dengan kita. Mereka berbeda dalam hal potensi yang mereka miliki. Karena kalau kita berpikir bahwa anak pasti memiliki potensi yang sama dengan orang tuanya, itu kata siapa? Padahal setiap anak manusia itu memiliki potensinya masing-masing sesuai kehendak Tuhan-Nya. Karena kalau setiap anak itu memiliki potensi yang sama, bisa dibayangkan dunia ini seperti apa? Penulis meyakini dunia akan kacau karena tidak adanya kolaborasi satu dengan yang lainnya dalam mewarnai kehidupan ini. Betapa membosankannya kehidupan ini. Dan karena Tuhan Maha mengetahui hal ini, maka Tuhan menititipkan potensi yang berbeda di dalam diri setiap anak manusia agar mereka mau saling tolong menolong. Karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Pasti manusia membutuhkan orang lain dalam melengkapi kehidupannya.

Tips-Tips agar kita tidak memaksakan ambisi kita sebagai orang tua kepada anak

  • Sadarilah bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda yang sudah Tuhan titipkan kepada diri masing-masing anak agar ketika mereka dewasa kelak, mereka bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain sesuai potensi dan takdirnya masing-masing.
  • Syukurilah ketika anak memiliki potensi yang berbeda dengan orang tuanya, karena itu merupakan tanda dari Tuhan bahwa anak kita memiliki misi yang berbeda dengan orang tuanya di dalam mengisi kehidupannya. Jadi orang tua tidak perlu kuatir lagi akan masa depan anak kita, karena anak kita sudah memiliki masa depannya sendiri. Dan tugas kita sebagai orang tua adalah mendukung dan menemani anak-anak kita agar dapat memaksimalkan potensinya itu. Inilah yang menjadikan diri kita sebagai orangtua mengikuti perintah agama: membantu anak-anak kita dalam memenuhi panggilan Tuhannya.
  • Kalau kita mau menyadari dan melakukan anjuran ini dengan konsisten, bisa dipastikan kehidupan kita berkeluarga akan menjadi harmonis, karena kita sebagai orang tua mulai menyadari ternyata meskipun anak-anak kita ini lahir dari rahim kita, ternyata mereka memiliki ‘takdir’ khusus dari Tuhannya.

Komentar