LOGIKA

 



            “Logika adalah kebenaran”...  apakah kita masih memiliki anggapan seperti itu? Padahal kita mengetahui bersama bahwa setiap manusia itu memiliki logika berpikir mereka sendiri. Logika mereka dalam berpikir satu dengan yang lainnya pasti berbeda, tergantung keilmuan dan wawasan yang dimiliki. Tetapi mengapa masih ada manusia yang masih mengagung-agungkan logika berpikirnya sendiri? Dan ini bisa dilihat dari cara mereka berpikir –masih memiliki sikap merasa diri paling benar dan yang lain salah. Padahal mereka sudah mengetahui cara berpikir setiap manusia itu berbeda.

  Mengapa itu masih saja terjadi, menurut pendapat penulis karena logika berpikir mereka masih berorientasi dunia yaitu “apa untungnya buat saya kalau peduli dengan orang lain?” Oleh karena itu sampai kapan pun pasti mereka akan selalu membela mati-matian logika berpikir mereka, karena tujuan mereka bukan karena untuk kebaikan bersama, tetapi apa yang paling menguntungkan buat diri mereka sendiri. Karena di agama pun sudah dibocorkan kalau kita ingin selamat di kehidupan dunia ini, maka kita harus peduli dengan sesama, jadi kita tidak akan pernah berpikir logika kitalah yang paling benar dan yang lain salah, yang dapat menyebabkan terjadinya konflik di antara manusia karena tidak ada di antara mereka yang mau saling membantu sesama.

Kalau pola pikir mereka selalu berorientasi untuk sesama, penulis yakin takkan ada pengagungan logika berpikir diri pribadi, karena kita selalu berpikir apakah keputusan yang saya buat ini akan merugikan orang banyak atau tidak. Kita memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi tetapi kalau kita hanya fokus terhadap logika dari cara berpikir kita sendiri pasti hanya nafsu yang berbicara, padahal itulah sumber malapetaka yang sebenarnya. Maka tidak aneh kalau peperangan, perselisihan, dan penindasan masih saja terjadi di dunia ini.

Tuhan sudah mengetahui bahwa makhluk ciptaan-Nya yang bernama manusia ini masih memiliki nafsu, maka kalau dibiarkan tanpa petunjuk dalam kehidupannya –yang berasal dari Sang Pencipta manusia itu sendiri, yaitu Tuhan yang Maha Esa– maka manusia akan tersesat selamanya di dalam kehidupan dunianya, karena Tuhan paling mengetahui mahluk ciptaan-Nya sendiri. Apa yang mereka butuhkan untuk selamat di dunia, maka dibuatlah kitab suci sebagai pedoman kehidupan manusia.

Oleh karena itu penulis menghimbau para pembaca yang budiman, jadikanlah agama sebagai landasan kita untuk berlogika maupun berpikir, karena tidak ada cara yang lebih baik –karena Tuhan pasti lebih mengetahui mahluk ciptaan-Nya dibandingkan makhluk-Nya itu sendiri.

Tips-Tips dalam kita berlogika maupun berpikir

  • Jadikan selalu agama sebagai landasan kita berlogika maupun berpikir, karena tanpa kita melakukan hal tersebut, bisa dipastikan landasan logika berpikir kita itu selalu salah. Karena agama sebagai pedoman kehidupan manusia yang berasal dari Sang Maha Pencipta.
  • Jangan pernah mengagung-agungkan logika berpikir kita kalau tidak memiliki landasan logika berpikir dari agama, karena bisa dipastikan landasan logika berpikir kita itu lemah. Karena kita hidup berdasarkan asumsi-asumsi yang kita miliki, dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa manusia adalah tempatnya kesalahan. Jadi bagaimana kita bisa yakin dengan asumsi yang kita miliki..?
  • Berusaha memahami agama dengan menyeluruh, jangan setengah-setengah agar landasan logika berpikir kita menjadi benar. Di dunia ini tidak ada satu pun referensi yang paling dapat dipercaya selain agama, karena yang lain adalah ciptaan manusia. Maka kalau kita sampai tidak memahaminya, bisa dipastikan logika berpikir kita akan selalu salah dan akibatnya kehidupan kita di dunia lebih banyak mengalami masalah dibandingkan kebahagiaan.

Komentar