KEPALA BATU

 


Konotasi kata ‘kepala batu’ selalu negatif di sebagian besar orang yang mendengarnya – orang yang egois, mau menang sendiri, tidak mau mendengar masukan dari orang lain, dan sebagainya. Tetapi kalau menurut penulis, konotasi kepala batu tidak selalu negatif... bahkan kalau kita mau melihat sisi positifnya, orang yang kepala batu adalah orang yang memegang prinsip hidupnya, tetapi dengan catatan: prinsip hidup yang tidak merugikan orang-orang di sekitarnya dan menyalahi aturan agama. Karena ketika kita mempertahankan prinsip hidup kita, terkadang ada saja orang yang tidak suka... padahal prinsip hidup kita ini menurut cara pandang kita adalah positif.

Kita cenderung mengalah akan pendapat orang yang belum tentu paham dengan kehidupan kita. Padahal mereka pun hanya berasumsi pula –mereka hanya melihat dari cara pandang kacamata mereka, bukan cara pandang kita melihat situasi dan kondisi kehidupan yang kita alami sendiri. Dan ini kadang membuat kehidupan kita selalu penuh keraguan karena kita terlalu sangat peduli dengan pendapat orang lain mengenai diri kita, yang akhirnya ketika mereka juga tidak dapat membantu kita namun hanya sekedar bicara –malah membuat kehidupan kita menjadi kacau.

Menurut pendapat penulis, ketika kita dinilai ‘kepala batu’ oleh orang lain, janganlah kita terburu-buru memutuskan bahwa prinsip kita yang salah... tetapi jadikan bahan evaluasi untuk diri kita. Dan ketika kita memutuskan bahwa prinsip kita itu benar, tidak merugikan orang lain maupun melanggar peraturan agama, maka bertahanlah dengan prinsip kita itu karena yang menjalani kehidupan kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain... jadi buat apa kita merasa gundah gulana karena kadang menjadi kepala batu lebih baik dibandingkan tidak memiliki kepala sama sekali, hehehe..

Tips-Tips menjadi kepala batu yang benar

  • Tanyakan diri kita sendiri, apakah prinsip yang kita pegang ini tidak merugikan orang lain dan menyalahi aturan agama? Tetapi fokuslah terhadap aturan agama terlebih dahulu, karena maksud dari ‘merugikan orang lain’ kadang butuh pemahaman yang lebih dalam karena setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat sesuatu.
  • Apabila aturan agama tidak ada yang kita langgar dan menurut kita pribadi tidak ada orang lain yang kita rugikan, maka lakukanlah yang kita anggap benar meskipun orang-orang banyak yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan... karena lebih baik dianggap ‘kepala batu’ dibandingkan orang yang tidak memiliki prinsip di dalam hidupnya, karena kehidupan kita sudah pasti kitalah yang menjalaninya, bukan orang lain.
  • Selama perjalanan kehidupan kita, pasti ada orang yang suka kepada kita maupun yang tidak suka... tetapi itu tidak masalah, karena yang bermasalah adalah kalau kita ingin menyenangkan perasaan semua orang mengenai diri kita. Itu sama saja kita seperti menaburkan segenggam garam ke danau, karena tidak akan pernah membuat air danau itu menjadi asin.

Komentar