Tuhan telah memberikan nikmat yang luar biasa kepada
manusia berupa pikiran yang mana dengan pikirannya manusia dapat menentukan
kehidupan atau nasibnya sendiri, apakah menuju ke arah kebaikan atau keburukan
–berbeda dengan binatang yang hanya mengikuti nalurinya saja. Tetapi masalahnya
kadang manusia tidak menggunakan pikirannya untuk kemaslahatan dirinya, malahan
banyak manusia yang menyia-nyiakan pikiran yang telah dianugerahkan kepadanya
untuk sesuatu yang sia-sia yang tidak mendatangkan manfaat bagi kehidupannya.
Kadang manusia lalai akan tugasnya di muka bumi ini
untuk menjadi pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Ini bisa dilihat
kalau manusia masih saja memiliki sifat menyia-nyiakan kehidupannya dengan
melakukan hal yang tidak bermanfaat seperti masih memiliki sifat malas, pelit,
egois dan tidak mau menghargai sesama. Padahal manusia adalah satu-satunya
mahluk ciptaan Tuhan yang mendapatkan anugerah berupa pikiran. Jadi, betapa
sayangnya Tuhan kepada mahluk ciptaan-Nya yang bernama manusia ini dengan
memberikan pikiran agar manusia bisa menggunakannya untuk kemaslahatan
kehidupannya –namun masih saja di sia-siakan. Ini yang membuat penulis banyak
berpikir dan merenung mengapa ini terjadi kepada manusia yang merupakan mahluk
ciptaan Tuhan yang sudah sangat sempurna, tetapi masih saja melakukan hal yang
sia-sia. Dan akhirnya penulis menemukan jawabannya, yaitu: manusia memiliki
pikiran tetapi lupa menggunakan akalnya, yaitu berupa agama. Karena dengan agama, manusia memiliki kemampuan untuk
bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Oleh karena itu tidak aneh apabila manusia selalu
dalam keadaan bingung akan dirinya karena lupa menggunakan akalnya. Jadi,
manusia tidak dapat menggunakan kekuatan pikirannya karena di dalam pikirannya
tidak dijumpai akal yang menjadi bahan bakar bagi pikirannya agar memiliki
fungsi untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Dan ini juga sebagai
pengingat bagi penulis, ternyata apabila kita tidak mau untuk belajar agama
untuk dipahami, maka pikiran tak dapat berfungsi dengan baik. Oleh karena itu
jangan salahkan Tuhan apabila kehidupan kita seperti jalan di tempat.
Tips-Tips dalam menggunakan kekuatan pikiran kita
- Sadarilah setiap manusia memiliki anugerah yang luar biasa berupa pikiran yang diberikan oleh Tuhan untuk kemaslahatan kehidupannya di dunia. Tetapi, apabila tidak disandingkan oleh akal –berupa agama– maka pikiran yang seharusnya memiliki kekuatan yang dahsyat, akhirnya menjadi sia-sia.
- Pikiran tanpa agama bisa diibaratkan seperti masakan tanpa garam. Tidak bisa dinikmati dengan maksimal karena tidak adanya cita rasa di makanan tersebut. Maka pikiran tanpa agama akan menjadi tidak seimbang karena manusia yang hidupnya tanpa menjalani perintah agama bisa dijamin akan tersesat selamanya, karena hidup tanpa memasukkan agama dalam pikiran kita membuat manusia mudah untuk menyalahkan kehidupannya apabila tidak sesuai dengan yang dia inginkan.
- Semakin jelaslah bahwa kita tidak dapat menggunakan kekuatan pikiran kita yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada manusia apabila tidak disandingkan dengan agama. Karena hanya di agamalah aturan kehidupan manusia sudah sangat terpampang dengan jelas. Maka agama bisa disebut sebagai pedoman kehidupan yang diibaratkan ‘kompas dan peta’. Apabila kita sedang tersesat di suatu daerah yang kita tidak mengenalinya, maka kita menggunakan kompas dan peta sebagai petunjuk jalan, maka kita tidak akan tersesat. Apalagi keseluruhan kehidupan kita di dunia tanpa agama, maka kita akan tersesat selamanya.

Komentar
Posting Komentar