Keberuntungan

 


Kadang kita menilai seseorang dikatakan beruntung atau tidaknya dari hal yang tampak dari kasat mata seperti harta bendanya, penampilannya, prestasinya. Sebaliknya, apabila dia tidak memiliki semua itu, kita katakan dia orang yang kurang beruntung. Pola pikir yang seperti itulah yang selama ini kita miliki. Padahal menurut pendapat penulis, sejatinya orang yang disebut beruntung itu adalah orang yang memiliki banyak amal kebaikan di dalam kehidupannya. Karena dengan amal kebaikannya itulah ‘alam semesta’ akan menyukai orang tersebut, karena di kehidupan dunia ini ada hukum tarik-menarik: kebaikan akan menarik kebaikan, dan kejahatan akan menarik kejahatan.

Oleh karena itu kalau kita berbuat jahat, pasti orang-orang yang jahatlah yang akan menghampiri kehidupan kita. Saya ingin tanya kepada pembaca yang budiman, siapakah di sini yang tidak menyukai orang yang baik? Apakah ada di antara kita menyukai orang yang jahat? Karena orang yang jahat saja menyukai orang yang baik, apalagi orang yang baik, pasti menyukai orang yang baik juga. Penulis tidak pernah menemukan orang yang paling jahat sekalipun suka kalau dijahati, pasti mereka suka kalau orang lain baik kepada mereka. Jadi memang sudah menjadi kodratnya manusia suka kepada kebaikan.

Pertanyaannya, mengapa masih saja ada orang yang berprilaku jahat kepada orang lain? Karena orang tersebut tidak sadar ada hukum tarik-menarik ini. Orang yang terus berperilaku jahat biasanya merasa keadaanya baik-baik saja meskipun dia terus berprilaku jahat. Padahal dia tidak mengetahui bahwa ada masalah besar yang menanti orang jahat di ujung kehidupannya. Karena orang itu dibiarkan Tuhan untuk terus melakukan kejahatannya berulang kali, karena orang-orang di sekelilingnya sudah banyak yang menasihatinya agar tidak berperilaku jahat, tetapi dirinya tidak mau mendengarkan. Maka Tuhan membiarkannya seperti itu. Dan kalau dia tidak sadar-sadar juga, apakah dia siap menanggung konsekuensi yang dia dapatkan dari Tuhannya? Karena sudah dijelaskan dalam agama bahwa setiap perilaku manusia pasti akan ada balasannya. Jadi tinggal menunggu waktu saja akan datangnya balasan yang menimpa diri kita.

Jadi, apakah kita masih bisa menilai orang yang beruntung itu dari penampakan luarnya saja? Karena orang yang kehidupannya penuh dengan keberuntungan, pastilah orang yang baik. Jadi, teruslah kita menjadi orang yang baik karena orang yang baik akan terus dinaungi kebaikan –sedangkan keberuntungan (nasib) berupa harta benda hanya merupakan bonus saja dari Tuhan.

Tips-Tips menjadi orang yang beruntung

  • Sadarilah orang yang disebut beruntung di dalam kehidupannya dinilai bukan saja dari seberapa banyak harta benda yang dia miliki atau penampilan luarnya saja, tetapi dari seberapa banyak amalan kebaikan yang dia telah perbuat. Karena ada hukum tarik-menarik di dunia ini: kebaikan akan menarik kebaikan, dan kejahatan akan menarik kejahatan.
  • Keberuntungan pasti dinilai dari kebaikan-kebaikan yang jumlahnya banyak yang menghampiri kehidupan kita, tidak pernah sebaliknya. Oleh karena itu teruslah konsisten dalam berbuat kebaikan karena perbuatan itu tidak pernah membohongi hasilnya, karena itu sudah merupakan janji Tuhan.
  • Jangan kita menilai keberuntungan dari harta benda, jabatan dan penampilan luar kita saja, tetapi juga dari kebahagiaan, kesehatan, dan ketenangan dalam kehidupan ini. Karena buat apa kita kaya kalau kita sakit-sakitan..?  Buat apa kita kaya raya kalau keluarga kita berantakan..?  Buat apa kita ‘senang-senang’ kalau anak-anak kita terkena narkoba..? –terkadang materi tidak dapat membeli kebahagiaan.

Komentar